Jumat, 04 November 2011

apa susahnya sih bilang kata "itu" ?

hidup ini indah kalo masing-masing dari penikmat hidup mudah untuk mengucap kata "maaf"
kata yg simple, gampang banget buat di ucap, tapi memiliki arti yang luar biasanya hebatnya..
kadang kalo di pikir-pikir kata ini memang salah satu kata yg susah buat di ucap. selain kata "menyesal"..

banyak orang mikir kalo ngucapin kata ini harus mikir 2x, harus tahan malu lah, ato apalah yg padahal itu semua gak guna..

well sekarang aku ngerasain sendiri gimana susahnya bilang kata "maaf"..walopun sebenernya aku gak nglakuin kesalahan di orang itu, tapi gak tau kenapa aku harus bilang kata "maaf" itu ke dia..

kejadiannya bermula sekitar 2hari yg lalu, yg gak tau kenapa, aku tiba-tiba males aja gitu sama dia. emang sih waktu itu aku ngerasa lagi betek sebetek-beteknya orang betek -__- jadi ya wajarlah kalo aku diemin semua orang, gak cuman dia doang..

tapi, hari-hari berikutnya aku semakin males, males dan males buat ngomong although itu cuman little conversation tetep aja bawaannya males..
dia juga kayanya nyadar kalo aku agak menghindar, yah lebih tepatnya sedikit menghindar, sampe akhirnya dia tanya sendiri, dan kita terlibat suatu conversation yg sebenernya ku hindari..

jadi kesimpulannya adalah how to say "sorry, i never meant it to you" 
kaaan, itu susaah teman :'( any idea for me? 

Kamis, 03 November 2011

tugas cerpen "Air Mata Hampa"

Air mata hampa
oleh Lidya R Alfian

Air matanya berlinang, matanya sembab, nanar tak bercahaya, pipinya bertahtakan linangan air mata yang terus mengalir. Lina menangis terisak di kamarnya, memandangi foto adik lelakinya yang tersenyum tanpa arti. Senyum kebahagiaan yang mungkin tak akan pernah ia lihat lagi. Tak akan pernah hilang walaupun ia telah di tempat yang paling indah.
“Faaan!! Ayo cepetan dong! Udah jam 06.15 nih, kakak bisa telat! Jadi bareng gak sih?!?”
“Iya-iya kak , bentar ya, aku masih makan nih. Tinggal dikit kok, bentaar aja”.
“Cepetan kalo gitu makannya! Duh punya adik 1 bisanya cuman ngerepotin aja !!”.
“Udah nih kak hehe yuk berangkat, maaf ya”.
Pagi itu perasaan Lina bercampur aduk menjadi 1. Ia marah, sedih dan bingung karena tugas matematikanya belum ia kerjakan sama sekali, dan pastinya untuk pagi ini ia terlambat datang ke sekolah.
Tak biasanya pagi itu Lina  menurunkan adiknya hanya sampai di seberang sekolah, biasanya Lina menurunkan Alfan persis di depan gerbang sekolah. Dan tak biasanya pula suasana jalan raya tempat Alfan bersekolah ramai.
“Kok turun di sini kak? Aku kan gak bisa nyebrang” tanya anak  yang masih duduk di kelas 3 SD itu.
“Aduh kamu udah besar kan? Belajar buat nyeberang sendiri dong, kakak udah telat banget nih! Udah ya kakak berangkat dulu” jawab Lina ketus.
“Tapi kak? Kakaaak!!” teriak sang adik.
Lina tak peduli, ia terus memacu sepeda motornya meninggalkan Alfan yang kebingungan untuk menyeberang. Jarak 500 meter ia mendengar dentuman rem sebuah mobil diikuti teriakan seorang anak laki-laki yang meneriakan namanya, spontan ia berhenti dan menoleh ke arah suara itu berasal.
Berlari, sekencang-kencangnya Lina berlari. Di matanya, kumpulan air mata telah membentuk gunungan yang siap untuk memuntahkan isinya. Tangisnya pecah ketika ia melihat tubuh adiknya yag tergeletak tak bergerak dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya. Orang-orang di sekitar sana pun panik dan sigap untuk menolong bocah kecil malang itu.
“Alfaaan! Alfan bangun, kakak di sini, ayo kita ke rumah sakit. Faan bertahan!” dalam isaknya ia berusaha berkomunikasi dengan adik satu-satunya itu.
“Kak…” mulut Alfan terbuka, suara lirihnya memecahkan keheningan yang ada.
Tak lama ambulan datang, Alfan segera di bawa ke rumah sakit terdekat. Di dalam ambulan Lina terus menangis, sembari memegang tangan adiknya. Tiba-tiba saja Alfan bersuara
“Kak, Alfan sayang kak Lina..sayang sekali..kakak baik-baik ya”.
“Alfan bertahan ya, sebentar lagi kita sampek kok. Kak Lina juga sayang sama Alfan, maafin kakak yang udah marah-marah ke Alfan tadi pagi ya, kakak menyesal” dan lagi-lagi Lina terisak dalam tangisnya.
Tangan mungil yang Lina pegangi terjatuh, diam tak bergerak, tak lagi menggenggam erat seperti sebelumnya. Tuhan telah mengirimkan salah satu malaikatnya untuk menjemput Alfan. Menjemput dan membawanya ke tempat yang paling indah, tempat dimana hanya ada kebahagiaan tanpa air mata.
Alfan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, Lina sudah menelpon kedua orang tuanya. Mereka semua tetap tersenyum walaupun langit mendung menyelimuti hati mereka semua. Di atas sana, Alfan tersenyum. Tersenyum bahagia karena telah di beri kesempatan hidup dengan orang-orang yang menyayanginya.

SELESAI

Rabu, 02 November 2011

its called "confused"

dulu, sekarang ato besok kayanya sama aja ya kalo kita mendem perasaan ke orang lain, mau sampe kapanpun kalo nggak di omongin ya gak bakal ada yg berubah di kehidupan ini..

tapiii masalahnya adalah apa yg harus di omongin?
agak susah kayanya harus jelasin kaya apa, tapi anyway nih ya emang paling enak kalo di omongin..

tapii sekali lagi nih ya gimana cara ngomongnya? well aku emang interested sm anak itu, tapii agak susah kayanya. aku sendiri aja masih bingung sebenernya perasaanku ke orang itu tuh emang tulus cinta apa cuman sekedar suka-sukaan biasa -____-

honestly nih ya, aku gak pernah suka sm cowok dalam artian yg bener-bener suka, cinta, ato apalah yg sampe ngejar-ngejar gitu, gak penting juga gituloh cewek ngejar-ngejar sampe segitunya, yg ada malah bikin sakit ati -,-"

motto di hidupku cuman 1 "let it flow, let it shine, let it fill your heart as long as makes you happy though it just in your deepest heart" :)