Air mata hampa
oleh Lidya R Alfian
Air matanya berlinang, matanya sembab, nanar tak bercahaya, pipinya bertahtakan linangan air mata yang terus mengalir. Lina menangis terisak di kamarnya, memandangi foto adik lelakinya yang tersenyum tanpa arti. Senyum kebahagiaan yang mungkin tak akan pernah ia lihat lagi. Tak akan pernah hilang walaupun ia telah di tempat yang paling indah.
“Faaan!! Ayo cepetan dong! Udah jam 06.15 nih, kakak bisa telat! Jadi bareng gak sih?!?”
“Iya-iya kak , bentar ya, aku masih makan nih. Tinggal dikit kok, bentaar aja”.
“Cepetan kalo gitu makannya! Duh punya adik 1 bisanya cuman ngerepotin aja !!”.
“Udah nih kak hehe yuk berangkat, maaf ya”.
Pagi itu perasaan Lina bercampur aduk menjadi 1. Ia marah, sedih dan bingung karena tugas matematikanya belum ia kerjakan sama sekali, dan pastinya untuk pagi ini ia terlambat datang ke sekolah.
Tak biasanya pagi itu Lina menurunkan adiknya hanya sampai di seberang sekolah, biasanya Lina menurunkan Alfan persis di depan gerbang sekolah. Dan tak biasanya pula suasana jalan raya tempat Alfan bersekolah ramai.
“Kok turun di sini kak? Aku kan gak bisa nyebrang” tanya anak yang masih duduk di kelas 3 SD itu.
“Aduh kamu udah besar kan? Belajar buat nyeberang sendiri dong, kakak udah telat banget nih! Udah ya kakak berangkat dulu” jawab Lina ketus.
“Tapi kak? Kakaaak!!” teriak sang adik.
Lina tak peduli, ia terus memacu sepeda motornya meninggalkan Alfan yang kebingungan untuk menyeberang. Jarak 500 meter ia mendengar dentuman rem sebuah mobil diikuti teriakan seorang anak laki-laki yang meneriakan namanya, spontan ia berhenti dan menoleh ke arah suara itu berasal.
Berlari, sekencang-kencangnya Lina berlari. Di matanya, kumpulan air mata telah membentuk gunungan yang siap untuk memuntahkan isinya. Tangisnya pecah ketika ia melihat tubuh adiknya yag tergeletak tak bergerak dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya. Orang-orang di sekitar sana pun panik dan sigap untuk menolong bocah kecil malang itu.
“Alfaaan! Alfan bangun, kakak di sini, ayo kita ke rumah sakit. Faan bertahan!” dalam isaknya ia berusaha berkomunikasi dengan adik satu-satunya itu.
“Kak…” mulut Alfan terbuka, suara lirihnya memecahkan keheningan yang ada.
Tak lama ambulan datang, Alfan segera di bawa ke rumah sakit terdekat. Di dalam ambulan Lina terus menangis, sembari memegang tangan adiknya. Tiba-tiba saja Alfan bersuara
“Kak, Alfan sayang kak Lina..sayang sekali..kakak baik-baik ya”.
“Alfan bertahan ya, sebentar lagi kita sampek kok. Kak Lina juga sayang sama Alfan, maafin kakak yang udah marah-marah ke Alfan tadi pagi ya, kakak menyesal” dan lagi-lagi Lina terisak dalam tangisnya.
Tangan mungil yang Lina pegangi terjatuh, diam tak bergerak, tak lagi menggenggam erat seperti sebelumnya. Tuhan telah mengirimkan salah satu malaikatnya untuk menjemput Alfan. Menjemput dan membawanya ke tempat yang paling indah, tempat dimana hanya ada kebahagiaan tanpa air mata.
Alfan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, Lina sudah menelpon kedua orang tuanya. Mereka semua tetap tersenyum walaupun langit mendung menyelimuti hati mereka semua. Di atas sana, Alfan tersenyum. Tersenyum bahagia karena telah di beri kesempatan hidup dengan orang-orang yang menyayanginya.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar